Artikel

Artikel Tentang Kehidupan Dan Arti Syukur.

Kita hidup hanya sementara,
Jadi kita tidak usah sombong dengan apa yang sudah kita miliki sekarang, dan kita juga jangan pernah merasa kekurangan dengan apa yang kita miliki sekarang.
Contoh, kita masih bersyukur masih bisa makan sehari dua kali bahkan ada yang lebih, dan mungkin anda juga orang yang sangat beruntung bisa menikmati akses Internet baik dari Hp atau pun Warnet – warnet yang berada di kota anda, untuk slalu dapat Mencari informasi terbaru, Coba sekali – kali anda memperhatikan orang – orang yang selalu berada di jalan – jalanan misalnya anak – anak pengamen lampu merah, jual – jual koran, Tukang becak dayung, pemulung, dan orang yang tinggal di sudut – sudut Kota. Jangan kan Akses Internet untuk makan aja mereka sulit, betapa minimnya pengetahuan mereka tentang dunia luar ataupun inovasi – inovasi terbaru di jaman moderen sekarang ini,
Jadi bagi anda yang serba kecukupan, bersyukur lah dengan apa yang anda miliki sekarang, dan jangan pula anda sombong dengan harta dan jabatan yang anda peroleh sekarang,
karena dengan anda bersyukur dengan apa yang anda miliki, Niscaya Insya Allah, Allah akan memberikan kelipatan dengan apa yang pernah anda miliki sekarang

Pernahkah anda memberikan sebagian apa yang anda miliki kepada orang yang tidak mampu?
Ingat hidup ini hanya sementara, Dan apa yang kita miliki sekarang hanyalah titipan Sang Ilahi,
tidak ada salahnya kita bersyukur dan memberikan sedikit apa yang kita miliki, kepada orang yang tidak mampu.

mungkin anda beranggapan kalau anda orang yang giat dan telaten sehingga anda bisa memiliki apa yang anda miliki sekarang, dan beranggapan kalau orang yang tidak mampu itu orang yang rendah,
Anda salah jika anda berfikiran seperti itu, semua itu kembali dengan kuasa Illahi, karena soal keberuntungan, mungkin anda termasuk orang yang beruntung, dan orang yang tidak mampu itu orang yang belum beruntung, walau pun Ia bekerja sekeras mungkin kalau rejzeki dan keberuntungan belum di pihak Dia untuk saat ini.
Jadi jangan pernah layas kepada orang yang berada di bawah anda, karena mereka lebih pintar ilmunya & lebih banyak pengalaman Alamnya dari pada anda, umur empat tahun aja mereka sudah dilatih mencari duit, dan umur lima tahun mereka sudah dapa menghasilkan uang sendiri untuk biaya hidup, sementara dengan anda yang sehariannya makan dan uang masih dari orang tua sendiri, bahkan tidak banyak dari anda yang baru menghasilkan uang sendiri.

Coba Anda bayangkan apa bila anda berada pada posisi mereka.! Berada pada perempatan jalan, menjadi seorang pemulung atau pengamen jalanan?
Mungkin anda belum sanggupkan? Jadi Anda jangan merasa pernah kekurangan dengan apa yang anda miliki sekarang, bersyukurlah atas pemberian Sang Illahi kepada anda, mungkin belum saat ini anda memperoleh apa yang anda ingin miliki sekarang, bersabarlah dan selalu berdoa agar di mudahkan jalan Anda.

Semoga dengan Artikel Saya ini anda bisa menjadi Orang yang berguna bagi Nusa dan Bangsa dan selalu bersyukur kepada Illahi.

Catatan mengenai Fenglei Zhen Jiuzhou atau Geger Dunia Persilatan karya Liang Yusheng (Liang I-Shen).

Aris Tanone 

Ini adalah buku kedua yang saya baca sampai tamat, semenjak ikut milis Tjersil ini.

Buku pertama adalah “Lianchen Jue”-nya Jin Yong, atau lebih dikenal dengan judul kunonya Soh Sim Kiam di Indonesia. Saya tertarik buku pertama itu karena kejenakaan Jin Yong menggoda pembacanya dengan cara merubah berbagai frasa dalam syair zaman Tang menjadi nama jurus-jurus silat yang kocak, dan lagi karena bukunya cumaa  satu jilid. Apakah nuansa ini masih tersisa setelah diterjemahkan, saya tidak bisa komentar. Tapi itu alasan utama kenapa saya begitu tertarik pada buku itu. Sedangkan buku kedua ini saya pilih, pertama karena ini satu-satunya buku terbaru Liang Yusheng yang ada di library walaupun terbitan tahun 1999, dan kedua, karena di sampul dalam buku ini ada dafter lengkap judul dan kategori buku-buku Liang yang diterbitkan oleh penerbit Storm & Stree Publishing Co. (Fengyun Shidai Chuban She) dari Taipeh, Taiwan ini. Kebetulan, daftar karya Liang baru menjadi topik diskusi di milis ini.

Dalam urutan Karya Liang yang disusun pak ABS, buku ini berada dalam urutan nomor 19. Judul terjemahannya ‘Geger Dunia Persilatan’.  Beberapa hari lalu sudah saya singgung bahwa judul aslinya yang beredar di Internet banyak yang salah tulis. Setelah melihat judul di sampul bukunya, saya mengerti kenapa bisa terjadi kesalahan itu.

Pertama, berbeda dengan kita, umumnya versi elektronik buku asli yang ada di Internet dihasilkan dengan menggunakan OCR seperti yang tercantum diakhir setiap bab. Chinese word processing sudah demikian maju, dan kamus elektronik sudah begitu memadai, sehingga mereka tidak perlu mencari voluntir tukang ketik seperti kita di sini tetapi cukup memakai scanner saja. Tapi itu tidak berarti bahwa mereka terbebas dari persoalan walaupun jauh lebih kecil dibandingkan yang kita hadapi di sini.

Dua kesulitan yang mereka hadapi terlihat dalam buku ini dan berapa buku lain yang sering saya lihat di Internet. Pertama, judul buku ini ditulis dengan maobi atau pit dalam bahasa Hokkian. Akibatnya kayak menulis scripts dalam tulisan romawi, setiap huruf sedapat mungkin diselesaikan dengan goresan yang minim. Kebetulan kata zhou yang berarti distrik atau wilayah di sampul buku ini hasil tulisan maobi memberikan kesan seakan ada titik tambahan seperti kata zhou benua. Itu dugaan saya. Kemungkinan besar yang mengerjakan tugas transfer dari gambar ke artikel via OCR bukan seorang pecandu tjersil model voluntir kita di sini, tetapi hanyalah seorang pegawai rendahan di toko buku yang tinggal main comot saja? Kedua, OCR kadang tidak bisa membedakan huruf-huruf yang hanya beda satu dua goresan. Makanya tidak heran baru baris pertama, huruf ‘lei’ guntur sudah dikacaukan dengan huruf ‘xue’ salju. Saya malah pernah lihat di buku lain, mungkin Kuangxia Tianjiao Monu, dalam satu halaman, nama Tan Yuchong tahu-tahu berubah jadi Tan Chuchong. Cuma karena saya tidak baca seluruh buku, jadi waktu itu hanya tinggalkan satu tanda tanya saja. Tapi banyak juga salah cetak, misalnya huruf huo api dikacaukan dengan huruf quan untuk anjing dsb-nya.

Seperti sudah jadi trade mark Liang, buku ini juga dimulai dengan sebuah syair yang kalau diterjemahkan kira-kira menjadi begini:

Denyut kehidupan sembilan wilayah[1] diambang badai petir, 

Selaksa kuda bungkam rintihkan getir lewat kebisuan, 

Kupohonkan berkat semangat melimpah dari penguasa langit, 

Berikut limpahan patriot bijak cendekia tanpa pembatasan.   


[1] Sembilah wilayah atau Jiuzhou memakai kanji yang sama untuk nama kota di Jepang, Kyushu. Tetapi sembilah wilayah di sini adalah pembagian wilayah di zaman Zhanguo atau Negara-negara zaman perang, di mana daerah Tiongkok dulu dibagi atas 9 wilayah pemerintahan. Paling tidak ada 3 urutan yang berbeda. Tapi belakangan, istilah jiuzhou menjadi kataganti untuk Tiongkok, sehingga sembilan wilayah di atas bisa diterjemahkan menjadi seluruh negeri tanpa mengubah artinya.

Tapi biasanya kalau di buku-buku Liang syair itu gubahan sendiri, di buku ini Liang meminjam syair seorang pujangga pemberontak Gong Zenzi alias Gong Dingan, yang dijelaskan Liang lewat dialog lakonnya, saat kedua lakon ini bertemu di puncak Taishan waktu masing-masing datang dengan rencana untuk menikmati pemandangan indah menjelang matahari terbit. Tahu-tahu malah didera badai hujan dan gelegar guntur yang membuat mereka basah kuyup, salah satunya yang tidak tahu kalau di situ ada orang lain sempat menantang suara geledek dalam badai mendendangkan syair di atas. Lewat adegan pembukaan ini, Liang pun coba menjelaskan lebih jauh arti syair itu lewat dialog berikut sekedar untuk memberikan latar belakang sejarah ceritera selanjutnya:

Di bawah pohon pinus tua, dalam hujan badai, kedua orang itu berjabat tangan dan tertawa. Ye Lingfeng bilang:” Xiao dage, ternyata bukan saja ilmu silatmu hebat, kamu masih bisa mengarang syair yang bagus ini.” Xiao Zhiyuan langusng tertawa dan bilang: “Yang namanya ritme saja saya tidak mengerti, mana bisa menggubah syair? Ini adalah buah tangan cendikiawan Jiangnan Gong Dingan.”  Ye Lingfeng pun bertanya: “Apakah Xiucai dari Hangzhou, Gong Dingan yang bergelar Sastrawan Edan itu?”

Xiao Zhiyuan bilang: “Benar, dia orangnya. Beberapa hari lalu saya melewati kota Zhenjiang, kebetulan ada upacara persembahan untuk dewa angin dan dewa guntur di kuil Yuhuangci di Zhenjiang. Gong Dingan kebetulan juga lagi datang menonton dan seorang Daoshi[1] meminta dia menulis syair ini, untuk dibakar biar pesan berisi doa ini bisa mencapai dewa angin dan dewa guntur. Syairnya walaupun dibakar, tetapi sudah merambat lewat selaksa mulut. Xiaodi[2] tidak mengerti urusan menggubah syair, tetapi syair ini sudah cukup untuk menghancurkan duka di dalam dada. Kebetulan ketemu badai dan guntur, tanpa sadar saya langsung memekikkan syair itu dalam badai ini.”

Badai guntur datangnya cepat pergipun cepat sekali. Dalam sekejap, hujan pun berlalu dan langit pun terang benderang. Mega kekuningan, cahaya keperakkan gemerlapan, dari puncak Taishan memandang ke arah laut timur, kelihatan bola mentari merah seakan dipersembahkan oleh laut timur, dan gemerlap dalam pantulan mega, langit cerah sejauh mata memandang. Xiao Zhiyuan pun bertepuk tangan seraya tersenyum dan bilang:”Aneh ya, setelah badai dan guntur, pemandangan lebih memukai lagi.” Ye Lingfeng malah tiba-tiba saja menarik nafas panjang.

Ketika Xiao Zhiyuan mengejar:”Kenapa xiandi[3] menarik nafas?” Ye Lingfeng menjawab: ”Sekedar reaksi gara-gara tersentuh mendengar syair itu. Saat ini Zhongyuan lagi ditangan bangsa asing, dan ratusan tahun pun sudah lewat. Banyak sudah pahlawan dan orang bijak yang telah mengucurkan darah, kehilangan kepala, untuk mengusir penjajah Manzhou dan merebut kembali tanah air. Tetapi kini setelah melewati keempat dinasti Shunzhi, Kangxi, Yongzheng dan Qianlong, basisnya Manqing bertambah kokoh, dan kekejaman bangsa Tartar ini terhadap orang Han makin hari makin kejam, selain menindas juga pakai membujuk, selain menggunakan golok menebas juga menyediahkan  hadiah kopiah kerajaan, entah berapa banyak orang gagah ini yang masuk dalam kunkungan ini. Nafas kehidupan rakyat makin menurun, pikiran orang pun semakin membeku, rakyat jelata hanya bisa marah tetapi tidak bisa bicara, apakah situasi ini bukan yang dilukiskan dalam: <<selaksa kuda bungkam rintihkan getir lewat kebisuan>> Gimana tidak membikin orang menghela nafas?”

Xiao Zhiyuan membantah:”Tetapi ini belum tentu begitu. Denyut kehidupan sembilan wilayah diambang badai petir. Tidakkah kamu melihat waktu sebelum hujan deras dan kilat menyambar, bukankah semua pepohonan diam membisu, tiada debu beterbangan, tetapi begitu badai lewat, bukankah semua kotoran disapu bersih, nafas kehidupan bangkit kembali, ratusan bunga bermekaran?”

Ye Lingfeng menjawab:”Omongnya memang begitu. Tetapi entah kapan baru ada badai besar guntur menggelegar ini, bersihkan kepengapan ini, dan menggetarkan sembilan wilayah? Sudah itu kalau bicara tentang sumber daya manusia, kita berdua adalah orang rimba persilatan, maka mari kita bicara soal tokoh-tokoh persilatan ini saja.  Seratus tahun lalu ada tokoh Ling Muofeng Daxia[4] yang malang melintang di daerah Saiwai, menggetarkan hati kerajaan Qing; limapuluh tahun lalu ada Lu Siniang nuxia[5] yang malam-malam menyatroni istana memenggal kepala kaisar dengan pedang pusaka; dua puluh tahun lalu adalah Jin Shiyi Daxia[6], yang kalau muncul di suatu tempat, semua bajingan pada bersembunyi. Setelah pertempuran di Mengshan, membikin pengawal kerajaan Qing jadi takut berkelana ke dunia sungai telaga lagi. Kini, para tetua dan pahlawan ini, yang wafat sudah pada wafat, yang tua bertambah tua, ilmu mereka belum pada surup, tetapi kegagahan mereka makin meredup. Kalau ingat begitu, bagaimana tidak bikin hati gundah?…..”

………

Dari potongan terjemahan ceritera di atas ini paling tidak saya mendapatkan gambaran, mengapa judul ini disebut Fenglei Zhen Jiuzhou atau Badai Guntur Menggetarkan Sembilan Wilayah yang dengan bagusnya sudah diterjemahkan menjadi Geger Dunia Persilatan. Pertanyaan sekarang, di mana atau apa yang menggegerkan?

Supaya tidak merusak selera mereka yang belum baca, saya tidak akan jelaskan detail ceritera, tetapi berikan kerangka besarnya bahwa ceritera ini berawal dari kehadiran yang tidak sengaja dari dua tokoh di atas, ketika empat orang yingquan[7] atau garuda dan anjing pemburu, nama lain buat mata-mata kerajaan berusaha menangkap seorang ayah beranak di puncak Taishan. Kedua ayah beranak ini adalah Li Wenzheng dan Li Guangxia. Ayahnya mati gara-gara luka yang diderita setelah pertempuran berat melawan keempat yingquan itu, namun dia masih sempat menitipkan anaknya kepada dua pelaku di atas yang sempat membantu mereka mengalahkan musuh. Li Wenzheng setuju atas usul salah satu penolongnya agar Li Guangxia dibawa untuk berguru pada Jiang Haitian  (Kang Hai Thian), tokoh rimba persilatan ternama, anaknya Jiangnan alias Kanglam.


[1] Daoshi = Toosu.

[2] Xiaodi = siaute.

[3] Xiandi = Hiantee.

[4] Ling Muofeng Daxia = Leng Bo Heng Tayhiap?

[5] Lu Siniang nuxia = Lu Soe Nio Lihiap.

[6] Jin Shiyi Daxia = Kim Sie Ih Tayhiap.

[7] Seingat saya dulu suka baca istilah kuku garuda buat mata-mata dalam cersil. Tapi kuku garuda mengingatkan saya Yingzhua seperti dalam Engjiau, sedangkan Yingquan maksudnya garuda dan anjing pemburu.

Perlu saya jelaskan bahwa tokoh Li Wenzheng ini adalah seorang tokoh Tianli Jiao atau Hokkiannya mungkin Thian Li Kauw. Kematiannya kali ini dalam rangka melindungi wakil pimpinan Tianli Jiao bernama Lin Qing yang sedang dikejar Yingqian kerajaan, setelah ada pengkhianat melapor ke kerejaan yang lantas melabrak pusat Tianli Jiao di kota Baoting. Pemimpin Tianli Jiao bernama Zhang Tingju mati terbunuh waktu itu, sedangkan wakilnya Lin Qing menjadi buronan bersama putranya yang sebaya dengan putra Li Wenzheng, dan Li terpaksa berkorban dengan jalan memancing para Yingquan agar mengejar dia dan anaknya biar Lin dan anaknya bisa meloloskan diri. Dari situ ide ceritera ini berkembang, dan plotnya terus bercabang. Dalam lima buku Jiang Haitian terus berusaha mengejar Li Guangxia dan Lin Daoxuan, yang mengalami berbagai adegan menarik dalam perjalanan hidup mereka dan itu yang  membuat saya memaksakan diri menyelesaikan kelima jilid ini sampai kemarin tengah malam.

Ada beberapa hal yang menarik di sini:

Pertama soal Tianli Jiao. Ternyata ini adalah pecahan atau bagian dari Bailian Jiao yang dibahas pak ABS dalam email nomor 2621, tanggal 25 Agustus 2003 yang baru lalu. Tianli sendiri berarti hukum alam, dan tidak ada hubungan dengan Tenrikyo yang memakai nama dengan huruf kanji yang sama dan merupakan satu sekte agama Budha di Jepang. Selain Tianli Jiao mereka juga dikenal dengan nama Bagua Jiao atau ejaan  Hokkiannya mungkin Patkwa Kauw.

Dalam catatan sejarah, Tianli Jiao pernah memberontak pada zaman Jiaqing, dan ini pernah disinggung dalam tulisan pak ABS sbb:

Kemudian di jaman dinasti Tjeng (Qing), Pek Lian Kauw yang tetap menjadi secret society. Dan di bawah pimpinan Lauw Tjie Hiap, Lie Boen Seng, dan Lim Tjeng, organisasi ini berontak lagi di jaman kaisar Kee Keng (Jia Qing, memerintah 1796-1820), dan sempat masuk ke Pakkhia, walaupun akhirnya bisa ditindas.

Ternyata ketiga nama di atas, Lie Boen Seng itu tidak lain adalah tokoh Tianli Jiao yang mati di puncak Taishan, sedangkan Lim Tjeng adalah Lin Qing yang mau dilindungi ayah beranak Li Wenzheng ini.

Nah, apakah karya Liang Yusheng ini sejarah yang dicersilkan, atau cersil yang numpang sejarah, adalah hal kedua yang menarik hati saya.

Seperti pernah saya tulis, ketertarikan saya pada cersil saat saya masih kecil dulu antara lain karena banyak tokoh cersil terjemahan OKT dan Gan KL dulu ada dalam buku sejarah (waktu itu nama Jin Yong atau Liang Yusheng malah tidak begitu kenal, karena maklum sekolah rakyat saja belum tamat). Sampai sekarang saya masih ingat ketakjuban saya ketika menemukan nama Zhang Sanfeng alias Thio Sam Hong itu dalam satu kamus tebal di perpustakaan sekolah saya waktu itu. Zaman sekarang selain tulisan pak ABS di atas, bahan sejarah Tiongkok di Internet amat berlimpah. Dengan memasukkan search words Tianli Jiao untuk search dalam Chinese Traditional atau Fanti saja, hasilnya 857 entries dalam waktu 0.2 sekon. Dari situ saya temukan, antara lain dari bahan sejarah perang Candu, kalau pemberontakan Tianli Jiao berlangsung pada tanggal 15 September 1813, atau tepatnya, 190 tahun yang lalu.

Dalam buku ini, pemberontakan Lin tujuannya menyerang ke istana, sedangkan bawahan Lin yang terdiri dari para jago rimba persilatan menyatroni penjara untuk bebaskan suaminya Qianshou Guangyin Qi Shengyin (Kuan Im tangan seribu Tjik Seng Im)  yang bernama Wei Zhijiong dan anaknya Lin yang bernama Lin Daoxuan yang sempat menjadi tawanan mata-mata kerajaan dan dibawa ke Beijing. Kedua tawanan ini bisa dibebaskan setelah pertempuran yang memakan tenaga, tetapi Lin sendiri mengalami perlawanan besar waktu menyerang ke istana walaupun ada anak buah Tianli Jiao yang menjadi kasim itu membantu dari dalam. Dalam kisah ini Lin tertembak. Hal ini dilukiskan di bab 41, dan ketika putranya Lin, Daoyuan yang baru dibebaskan masih menangis bergulung-gulung memeluki tubuh ayahnya, Jiang Haitian lalu memekik tertawa tiga kali terus berkata: “Bagus, Lin Qiaozhu[1], kamu mati dengan gagah. Kematianmu ini mengagetkan langit dan bumi, menggegerkan sembilan wilayah. Kematianmu ini membuat musuh menggigil dalam ketakutan, tetapi membangkitkan semangat rakyat. Kau tidak kalah, walaupun tidak berhasil menguasai istasana kaisar, tetapi kau telah menggetarkan fondasi dari kerajaan Qing. Kau hidup sebagai pahlawan, matipun sebagai pahlawan. Tidak, sesungguhnya kau tidak mati. Walaupun kau mati tetapi hidup kembali…..”

Walaupun masih ada 15 bab lagi sebelum buku ini berakhir, tetapi dari catatan di bagian awal dan catatan di atas, terlihat dari mana asal usul judul Fenglei Zheng Jiuzhou ini. Fenglei  atau badai dan guntur menggelegar dibahas di awal tulisan ini sebagai kiasan akan perubahan drastis dalam pemberontakan untuk mengubah suasana apatis akibat penjajahan. Sedangkan Zheng Jiuzhou, menggetarkan sembilan wilayah alias seluruh negeri, diambil dari pekikan Jiang Haitian saat memberikan eulogi dihadapan jenazah Lin di atas, dalam kata-kata, ‘kematianmu ini mengagetkan langit dan bumi, menggegerkan sembilan wilayah.”

Sekarang tinggal pertanyaan, sejauh mana kebenaran sejarah yang dipakai oleh Liang Yusheng dalam menggarap ceritera ini?


[1] Lin Qiaozhu = Lim Kauwtjoe.

Sekarang tinggal pertanyaan, sejauh mana kebenaran sejarah yang dipakai oleh Liang Yusheng dalam menggarap ceritera ini?

Dalam salah satu situs tentang sejarah perang Candu, dikisahkan bahwa Lin menyerang ke Beijing untuk membebaskan Li Wenzheng yang ketangkap sebelumnya. Lin bukannya ketembak dan mati di tangan para pemberontak, tetapi ketangkap oleh pasukan kerajaan, kemudian dihukum mati. Sedianya mereka berencana menyerang dari dua arah. Tetapi pasukan dari selatan gagal datang, dan seperti juga dalam ceritera ini, pasukan Lin harus bergerak awal satu hari. Pasukan selatan gagal karena waktu mereka membikin senjata, beritanya bocor, lalu pimpinannya bernama Li Wenzheng yang dalam ceritera Liang ini sudah dibunuh di awal ceritera, malah ketangkap, dipenjarakan, dan pasukan Lin menyerang ke istana sekalian bisa membebaskan Li dari penjara. Tanggal 23 September, kaisar Jia Qing sendiri ikut mengadili dan menjatuhkan hukum mati kepada Lin bersama para pembantunya.

Yang terakhir adalah urusan asal usul syair di atas. Syair itu dapat ditemukan dalam “Jihai Zashi” atau Kumpulan Syair Jihai dari Gong Dingan. Jihai di situ adalah nama tahun dalam kalendar Huang dengan siklus 60 tahun. Tepatnya, tahun Jihai di sini jatuh pada tahun Kaisar Daoguang ke-19, atau 1839 Masehi. Jadi kumpulan syair itu ditulis dua puluh enam tahun setelah pemberontakan Lin Qing. Gong berusia 38 tahun ketika dia lulus ujian kerajaan dan mendapatkan gelar Jinshi pada tahun Daoguang ke-9 atau 1829 Masehi, setelah mencoba untuk keenam kalinya. Karena lulus dengan nomor urut ke-95, atau nomor sembilan belas dalam kelompok kelas tiga, maka dia tidak bisa masuk ke Hanlin Yuan. Jadi  Kumpulan Syair Jihai ditulis setelah Gong lulus dan bekerja di Beijing selama 10 tahun lalu pulang kampung ke Zhejian gara-gara frustrasi dan mendapat urusan di ibukota. Dari urutan ini, jelaslah bahwa hanya imajinasi mpu seperti Liang Yusheng atau Jin Yong saja yang bisa membaurkan fakta sejarah ini dan menjadikan novel yang menggugah, di mana saya sendiri ikut menikmati.

Seperti saya katakan di awal tulisan ini, buku ini adalah buku kedua yang saya baca. Saya tidak bisa bandingkan dengan buku lain, karena pada umumnya buku-buku lain itu saya baca sekitar 30-40 tahun yang lalu. Ada beberapa nama, misalnya tokoh-tokoh Tianshan atau Mengshan yang mengingatkan saya akan nama-nama dari buku yang saya pernah baca dahulu. Termasuk dalam kasus ini adalah tokoh Jiangnan atau Kanglam, ayahnya Jiang Haitian. Seingat saya ini nama kacung entah di dalam Bidadari dari Sungai Es atau Pedang Inti Es. Cuma dari segi ilmu silat dan bagaimana tokoh-tokoh utama ini mendapatkan ilmunya, tidak sehebat seperti dalam trilogi Rajawali Jin Yong. Mengenai cara pemberian judul ceritera versi cetak ini juga berbeda dengan versi kuno. Semua judul dalam bentuk syair sudah dipenggal menjadi judul dalam bentuk pepatah yang terdiri dari 4 huruf saja. Begitu juga penutup bab yang selalu menyimpulkan kejadian di situ dalam bentuk syair juga tidak ada dalam versi cetak.  Tapi mungkin hal-hal ini tidak penting karena setahu saya syair tidak begitu dipentingkan versi dalam terjemahan.

***

Huntsville, Alabama.

190 tahun setelah pemberontakan Lin Qing

Catatan Akhir Xiaoao Jianghu.

Cerdik cendekia dan ksatria perkasa pada umumnya adalah orang yang aktif berupaya untuk maju.

Dari tolok ukur moral mereka terbagi atas dua kategori. Bila tujuan segala upaya mereka demi kesejahteraan banyak orang mereka dianggap orang baik. Sedangkan yang hanya mengutamakan kekuasaan, nama, kedudukan, kepuasan material dan merugikan orang lain dianggap orang jahat. Orang baik atau orang jahat masih ada lagi kalibernya. Ini ditentukan dari derajat kebajikan dan kerugian serta jumlah orang yang menikmati atau menderita akibat tindakan mereka.

Di bidang politik, lebih banyak waktu di mana orang jahat yang berkuasa sehingga selalu ada saja orang yang berupaya ingin menggantikannya; ada lagi yang ingin melakukan reformasi; adalagi orang yang tidak menaruh harapan pada reformasi dan tidak ingin ikut bergabung untuk ikut rusak bersama penguasa. Tujuan mereka adalah keluar dari pusaran pertarungan dan melakukan kebajikan. Makanya selalu saja ada pihak penguasa, pihak pemberontak, pihak reformasi dan para resi (pertapa).

Pandangan tradisional Tiongkok menganjurkan orang untuk “berprestasi dalam sekolah kemudian berbakti dalam pemerintahan”, mengikuti Kongzi (Confusius) yang “sudah tahu mustahil tetapi tetap berusaha untuk menyelesaikan”. Tetapi mereka juga punya penilaian tinggi terhadap para resi, menganggap mereka bersih dan terhormat. Para resi tidak mempunyai kontribusi aktif pada masyarakat, namun tindakan mereka tentu berbeda dengan para perampas kekuasaan dan memberikan suatu teladan yang lain. Orang Tionghoa juga mempunyai tuntutan yang lebih lunak dalam bidang moral. Sejauh tidak merugikan orang lain itu sudah dianggap orang baik.

Dalam Lunyu (The Analects of Confusius) tercatat berbagai pertapa, Chenmen[1], si gila dari negeri Chu – Jieyu, Changju, Jieniao[2], Paktua pembawa galah[3], Boyi, Shuji[4], Yuzhong[5], Yiyi, Zhuzhang, Liu Xiahui, Shaolien dan sebagainya. Kongzi sangat menghormati mereka walaupun tidak menyetujui tingkah laku mereka.

Confusius membagi pertapa atas 3 jenis: Boyi, Shuji termasuk mereka yang tidak membuang idealisme, mengorbankan harga diri; seperti Liu Xiahui, Shaolien, idealisme dan harga diri bisa dikorbankan, tetapi omongan dan tindakan mereka mengikuti aturan; seperti Yuzhong, Yiyi, asingkan diri meninggalkan urusan duniawi, bicara tanpa tedeng aling, tidak melakukan tindakan salah, tidak ikut berpolitik.

Penilaian Confusius terhadap mereka baik sekali dan jelas menunjukkan bahwa pertapa pun ada sisi positive. Kalau ikut dalam percaturan politik, ambisi dan harga diri tidak bisa tidak ada ruginya, tetapi itu tidak bisa dihindari. Liu Xiahui jadi hakim, pernah dipecat tiga kali. Ada yang menganjurkan agar dia pindah keluar negeri.  Liu Xiahui ngotot untuk tetap mempertahankan keadilan dan bilang: “Kemana aku harus pergi biar bisa mengabdi menurut aturan dan tidak dipecat tiga kali? Kalau mengabdinya tidak dengan benar, kenapa harus kutinggalkan negeri leluhurku? (Analects).

Kuncinya adalah pengadian. Kalau bekerja demi kesejahteraan umum, tidak bisa tidak harus mengabdi; mengikuti prinsip dan berbakti buat umum, tidak mengacu kepada jasa nama dan harta, walaupun terpaksa harus tunduk pada perintah atasan pun, bisa dianggap sebagai pertapa. Tetapi pertapa secara umum, tuntutan dasarnya adalah mencari kebebasan pribadi dan tidak peduli menyenangkan orang lain.

Tujuan saya menulis cersil adalah menulis tentang sifat manusia, seperti kebanyakan novel umumnya. Novel ini lewat berbagai tokoh yang ada bertujuan untuk melukiskan berberapa gejala umum dalam kehidupan politik di Tiongkok selama 3000 tahun. Penokohan dengan tokoh yang ada kedalam novel tidak berarti banyak, karena situasi politik bisa berubah dengan cepat, tetapi kalau menggambarkan sifat manusia, maka akan ada artinya dalam jangka panjang.Perebutan kekuasaan tanpa memperdulikan sesuatu, adalah fenomena dasar kehidupan politik di dalam maupun di luar negeri sejak dahulu sampai sekarang. Selama beribu tahun lalu ya begini, sekian ribu tahun dari sekarang mungkin masih akan begini.

Dalam gambaran saya, tokoh-tokoh Ren Wuoxing[6], Dongfang Bubai, Yue Buqun, Zuo Lengshan bukanlah tokoh rimba persilatan melainkan tokoh politik. Lin Pingzhi, Xiang Wentian, Fancheng Dashi, Zhonglu Daoren, Dingxian Shidai, Moda Xiansheng, Yu Canghai dan sebagainya juga tokoh politik. Bermacam-macam tokoh ini, selalu ada dalam setiap dinasti, barangkali di negara lain pun juga ada.

Slogan “Panjang umur kekal abadi, mempersatukan dunia persilatan”( 千秋萬載,一統江湖), sudah saya tulis dalam buku ini di tahun 60-an. Ren Wuoxing gara-gara memegang kuasa lalu menjadi jelek juga gejala umum sifat manusia. Semua ini bukanlah tambahan atau revisi setelah buku ini jadi.

Sewaktu Xiaoao Jianghu diterbitkan sebagai cerbung di Mingbao, ada 21 koran berbahasa Tionghoa, Vietnam dan Prancis di Saigon yang juga menerbitkannya secara serentak. Waktu ada perdebatan dalam parlemen Vietnam Selatan waktu itu, kadang ada anggota parlemen yang menuduh lawannya sebagai Yue Buqun (gentleman palsu) atau Zuo Lengshan (berniat membangun hegemony). Mungkin karena pergolakan situasi politik di Vietsel waktu itu, setiap orang merasa tertarik akan percaturan politik.

Linghu Chong adalah seorang ‘resi’ alamiah dan tidak tertarik pada kekuasaan. Yingying[7] juga seorang ‘resi’. Dia memiliki kekuasaan besar yang menentukan mati hidupnya para tokoh kangouw, malah lebih betah bersembunyi di sebuah gang semrawut di kota Luoyang, melewatkan waktu menikmati seruling menabuh kim. Dalam jiwanya dia hanya mementingkan kebebasan pribiadi, kepuasan diri sendiri. Yang paling penting hanyalah cinta.

Anak dara ini sangat pemalu dan berkulit tipis, tetapi di dalam cinta dia sangat aktif. Ketika rasa cintanya mengarah pada Yue Linshang, Linghu Chong malah dibuat tidak berkutik. Hanya waktu sampai di jalan raya di luar padang hijau, sewaktu dia bersama Yingying berada di dalam kereta, barulah cinta butanya kepada Yue Lingshan akhirnya punah, dan kekangan  jiwanya pun akhirnya terbebaskan.

 
Di akhir buku ini, Yingying menyorong tangan memegang pergelangan tangannya Linghu Chong dan mengeluh:”Tak dinyana tangannya Ren Yingying akhirnya juga terbogol dengan seekor monyet besar yang tak bisa dipisahkan lagi.” Cintanya Yingying akhirnya terpenuhi, dan keinginan hatinya pun akhirnya terpenuhi, namun kebebasan Linghu Chong malah jadinya terborgol. Atau mungkin hanya dalam cinta sepihaknya Yilin, kunkungan pada sifat Linghu Chong baru mengurang?
 

Hidup manusia di dunia, yang berisi kebebasan mutlak pada dasarnya tidak mungkin tercapai. Terbebas dari segala godaan dan mendapatkan pencerahan, bukanlah sesuatu yang dapat dicapai oleh setiap orang. Mereka yang terpukau dengan kekuasaan, banyak terdorong oleh niat untuk menggenggam kekuasaan, tidak lagi bisa mengontrol diri sendiri terus pergi mengerjakan berbagai macam hal yang sangat bertolak belakang dengan hati nurani. Sesungguhnya kasihan sekali. Dalam tradisi seni Tiongkok, baik dalam puisi, essay, sandiwara, lukisan, mencari kebebasan diri dari dulu merupakan tema utama. Semakin bergolak zamannya, kehidupan rakyat semakin menderita, tema ini menjadi makin menonjol.

“Manusia dalam sungai telaga, raga bukan diatur sendiri.”[8] Pepatah ini maksudnya, dalam hidup bermasyarakat, ada banyak hal yang terpaksa hanya bisa diterima saja karena itu diluar kemampuan seseorang untuk mengaturnya. Mau mengundurkan diri dari masyarakat atau dunia sungai telaga bukanlah hal yang mudah. Liu Zhengfeng ingin menikmati kebebasan dalam bidang seni, menjunjung tinggi persahabatan yang mengena di hati, ingin mencuci tangan di bokor emas; Empat kawan Meizhuang (Meizhuang siyou) mengharapkan bisa menyembunyikan nama bertapa di gunung Gu[9], menikmati kegemaran mereka dalam bidang kim, catur, seni menulis dan melukis; semua ini tidak bisa tercapai dan mereka akhirnya menjadi korban, sebab perebutan kekuasaan tidak mengizinkan. Lain halnya seperti pendekar besar Guojing (Kwee Tjeng) yang mengorbankan diri menempuh berbagai kesukaraan, sudah tahu mustahil pun masih tetap dilaksanakan. Dari segi moral malah lebih ada kepastian penerimaannya.

Linghu Chong bukanlah pendekar besar, tetapi seorang resi seperti Taoqian[10] yang mengejar kebebasan dan terbebas dari kungkungan. Feng Qingyang adalah orang yang  putus asa, menyesal malu dan pergi bertapa. Linghu Chong memang dilahirkan untuk tidak menerima kekangan. Di atas Hemu Ya (bukit kayu hitam), tak perduli apakah Yang Lianding atau Ren Woxing yang berkuasa, asal saja ada yang tertawa pun bisa menyebabkan bahaya terbunuh, apalagi sikap sombong. Kebabasan dunia kangouw yang tak terikat dengan segala aturan yang ada atau Xiaoao Jianghu adalah tujuan yang dikejar oleh orang seperti Linghu Chong ini.

Karena yang ingin ditulis adalah sifat umum dan gejala yang sering terungkap dalam kehidupan, maka dalam buku ini tidak dimasukkan latar belakang sejarah. Ini berarti, situasi seperti yang diceriterakan mungkin saja terjadi dalam dinasti manapun.

Jin Yong, Mei 1980.


[1] Nama-nama ini kebanyakan bukan nama sebenarnya. Chenmen misalnya adalah penjaga pintu kota, Jieyu berarti mendekati kereta. Nama-nama itu digunakan saat murid-murid Confusius menyusun Analects. Ada beberapa yang tidak bisa ditelusuri lagi nama asli seperti catatan 2-5.

[2] Ada yang menganggap Changju (長沮) dan Jieniao (桀溺) sekedar julukan berarti si tinggi dan si kekar dari sungai dan bukan nama asli.

[3] Di berbagai situs Internet, hanya ditulis yang berarti荷丈人(He Zhangren) atau pak tua He, tetapi dibukunya Jin Yong, Xiaoao Jianghu (3rd ed., 15th printing, Yuanliu Publ., Taipeh, Taiwan, 2002) yang saya baca, Jin Yong menulis 荷蓧丈人(Hodiao Zhangren). Rupanya huruf diao ini adalah huruf langka dalam versi elektronik.Hodiao Zhangren artinya pak tua yang memikul sesuatu disebilah galah.

[4] Boyi (伯夷)dan Shuji(叔齊) adalah dua kakak beradik yang hidup di akhir zaman dinanti Yin  (sekitar 1000 SM) atau dikenal juga sebagai Shang period (1600 – 1066 SM).

[5] Yuzhong (虞仲), putra kedua raja Zhou Taiwang (周太王). Sedangkan Yiyi (夷逸) dan Zhuzhang (朱張)sejauh yang saya tahu tidak ada catatan resmi mengenai mereka. Sedangkan satu-satunya catatan mengenai Shaolien (少連) mengacu bahwa dia adalah orang dari Dongyi. Liuxia Hui (柳下惠) adalah orang bijak dari negeri Lu di zaman perang () yang bernama Zhanqin (展禽) alias Ziqin (字禽). Karena tinggal di kota Liuxia, dan terkenal karena welasasih (惠) maka dipanggil Liuxia Hui atau si bijak dari Liuxia. Beberapa nama ini muncul dalam terjemahan Analect tanpa catatan kaki.

[6] Ren Wuoxing (任我行): Huruf Ren memang satu nama keluarga, tetapi salah satu arti kata ini adalah ‘biarkan’. Jin Yong memberi nama yang jenaka untuk tokoh ini, karena kalau dibaca artinya ‘biarkan aku jalankan’ yang mungkin bisa kita temukan padanannya dalam bahasa anak baru gede. Nama beberapa tokoh lain juga terasa lucu, misalnya Xiang Wentian atau Mengarah Tanya Langit.

[7] Yingying (盈盈): sederhana, jernih, bening.

[8] Berasal dari ungkapan: (人在江湖,身不由己).

[9]  孤山: Gushan, gunung di daerah Telaga Barat (Xihu) dekat Hangzhou yang terletak di antara Telaga luar dan telaga dalam.

[10] Taoqian (陶潛) atau Tao Yuanming (陶淵明) – 365-427 Masehi, adalah seorang pejabat yang akhirnya mengundurkan diri karena tidak puas dengan tindakan penguasa. Pengarang “Daohua Yuan Ji” atau “Catatan Taman Bunga Persik” yang melukiskan surga dunia tanpa penindasan dan pengurasan manusia atas manusia. Dia dianggap cikal bakal para resi penyair.

Catatan mengenai Fenglei Zhen Jiuzhou atau Geger Dunia Persilatan karya Liang Yusheng (Liang I-Shen). 

Aris Tanone 

Ini adalah buku kedua yang saya baca sampai tamat, semenjak ikut milis Tjersil ini. 

Buku pertama adalah “Lianchen Jue”-nya Jin Yong, atau lebih dikenal dengan judul kunonya Soh Sim Kiam di Indonesia. Saya tertarik buku pertama itu karena kejenakaan Jin Yong menggoda pembacanya dengan cara merubah berbagai frasa dalam syair zaman Tang menjadi nama jurus-jurus silat yang kocak, dan lagi karena bukunya cumaa  satu jilid. Apakah nuansa ini masih tersisa setelah diterjemahkan, saya tidak bisa komentar. Tapi itu alasan utama kenapa saya begitu tertarik pada buku itu. Sedangkan buku kedua ini saya pilih, pertama karena ini satu-satunya buku terbaru Liang Yusheng yang ada di library walaupun terbitan tahun 1999, dan kedua, karena di sampul dalam buku ini ada dafter lengkap judul dan kategori buku-buku Liang yang diterbitkan oleh penerbit Storm & Stree Publishing Co. (Fengyun Shidai Chuban She) dari Taipeh, Taiwan ini. Kebetulan, daftar karya Liang baru menjadi topik diskusi di milis ini. 

Dalam urutan Karya Liang yang disusun pak ABS, buku ini berada dalam urutan nomor 19. Judul terjemahannya ‘Geger Dunia Persilatan’.  Beberapa hari lalu sudah saya singgung bahwa judul aslinya yang beredar di Internet banyak yang salah tulis. Setelah melihat judul di sampul bukunya, saya mengerti kenapa bisa terjadi kesalahan itu.

Pertama, berbeda dengan kita, umumnya versi elektronik buku asli yang ada di Internet dihasilkan dengan menggunakan OCR seperti yang tercantum diakhir setiap bab. Chinese word processing sudah demikian maju, dan kamus elektronik sudah begitu memadai, sehingga mereka tidak perlu mencari voluntir tukang ketik seperti kita di sini tetapi cukup memakai scanner saja. Tapi itu tidak berarti bahwa mereka terbebas dari persoalan walaupun jauh lebih kecil dibandingkan yang kita hadapi di sini.

Dua kesulitan yang mereka hadapi terlihat dalam buku ini dan berapa buku lain yang sering saya lihat di Internet. Pertama, judul buku ini ditulis dengan maobi atau pit dalam bahasa Hokkian. Akibatnya kayak menulis scripts dalam tulisan romawi, setiap huruf sedapat mungkin diselesaikan dengan goresan yang minim. Kebetulan kata zhou yang berarti distrik atau wilayah di sampul buku ini hasil tulisan maobi memberikan kesan seakan ada titik tambahan seperti kata zhou benua. Itu dugaan saya. Kemungkinan besar yang mengerjakan tugas transfer dari gambar ke artikel via OCR bukan seorang pecandu tjersil model voluntir kita di sini, tetapi hanyalah seorang pegawai rendahan di toko buku yang tinggal main comot saja? Kedua, OCR kadang tidak bisa membedakan huruf-huruf yang hanya beda satu dua goresan. Makanya tidak heran baru baris pertama, huruf ‘lei’ guntur sudah dikacaukan dengan huruf ‘xue’ salju. Saya malah pernah lihat di buku lain, mungkin Kuangxia Tianjiao Monu, dalam satu halaman, nama Tan Yuchong tahu-tahu berubah jadi Tan Chuchong. Cuma karena saya tidak baca seluruh buku, jadi waktu itu hanya tinggalkan satu tanda tanya saja. Tapi banyak juga salah cetak, misalnya huruf huo api dikacaukan dengan huruf quan untuk anjing dsb-nya.

Seperti sudah jadi trade mark Liang, buku ini juga dimulai dengan sebuah syair yang kalau diterjemahkan kira-kira menjadi begini:

Denyut kehidupan sembilan wilayah[1] diambang badai petir, 

Selaksa kuda bungkam rintihkan getir lewat kebisuan, 

Kupohonkan berkat semangat melimpah dari penguasa langit, 

Berikut limpahan patriot bijak cendekia tanpa pembatasan.   

 

[1] Sembilah wilayah atau Jiuzhou memakai kanji yang sama untuk nama kota di Jepang, Kyushu. Tetapi sembilah wilayah di sini adalah pembagian wilayah di zaman Zhanguo atau Negara-negara zaman perang, di mana daerah Tiongkok dulu dibagi atas 9 wilayah pemerintahan. Paling tidak ada 3 urutan yang berbeda. Tapi belakangan, istilah jiuzhou menjadi kataganti untuk Tiongkok, sehingga sembilan wilayah di atas bisa diterjemahkan menjadi seluruh negeri tanpa mengubah artinya.

Tapi biasanya kalau di buku-buku Liang syair itu gubahan sendiri, di buku ini Liang meminjam syair seorang pujangga pemberontak Gong Zenzi alias Gong Dingan, yang dijelaskan Liang lewat dialog lakonnya, saat kedua lakon ini bertemu di puncak Taishan waktu masing-masing datang dengan rencana untuk menikmati pemandangan indah menjelang matahari terbit. Tahu-tahu malah didera badai hujan dan gelegar guntur yang membuat mereka basah kuyup, salah satunya yang tidak tahu kalau di situ ada orang lain sempat menantang suara geledek dalam badai mendendangkan syair di atas. Lewat adegan pembukaan ini, Liang pun coba menjelaskan lebih jauh arti syair itu lewat dialog berikut sekedar untuk memberikan latar belakang sejarah ceritera selanjutnya:

Di bawah pohon pinus tua, dalam hujan badai, kedua orang itu berjabat tangan dan tertawa. Ye Lingfeng bilang:” Xiao dage, ternyata bukan saja ilmu silatmu hebat, kamu masih bisa mengarang syair yang bagus ini.” Xiao Zhiyuan langusng tertawa dan bilang: “Yang namanya ritme saja saya tidak mengerti, mana bisa menggubah syair? Ini adalah buah tangan cendikiawan Jiangnan Gong Dingan.”  Ye Lingfeng pun bertanya: “Apakah Xiucai dari Hangzhou, Gong Dingan yang bergelar Sastrawan Edan itu?”

Xiao Zhiyuan bilang: “Benar, dia orangnya. Beberapa hari lalu saya melewati kota Zhenjiang, kebetulan ada upacara persembahan untuk dewa angin dan dewa guntur di kuil Yuhuangci di Zhenjiang. Gong Dingan kebetulan juga lagi datang menonton dan seorang Daoshi[1] meminta dia menulis syair ini, untuk dibakar biar pesan berisi doa ini bisa mencapai dewa angin dan dewa guntur. Syairnya walaupun dibakar, tetapi sudah merambat lewat selaksa mulut. Xiaodi[2] tidak mengerti urusan menggubah syair, tetapi syair ini sudah cukup untuk menghancurkan duka di dalam dada. Kebetulan ketemu badai dan guntur, tanpa sadar saya langsung memekikkan syair itu dalam badai ini.”

Badai guntur datangnya cepat pergipun cepat sekali. Dalam sekejap, hujan pun berlalu dan langit pun terang benderang. Mega kekuningan, cahaya keperakkan gemerlapan, dari puncak Taishan memandang ke arah laut timur, kelihatan bola mentari merah seakan dipersembahkan oleh laut timur, dan gemerlap dalam pantulan mega, langit cerah sejauh mata memandang. Xiao Zhiyuan pun bertepuk tangan seraya tersenyum dan bilang:”Aneh ya, setelah badai dan guntur, pemandangan lebih memukai lagi.” Ye Lingfeng malah tiba-tiba saja menarik nafas panjang.

Ketika Xiao Zhiyuan mengejar:”Kenapa xiandi[3] menarik nafas?” Ye Lingfeng menjawab: ”Sekedar reaksi gara-gara tersentuh mendengar syair itu. Saat ini Zhongyuan lagi ditangan bangsa asing, dan ratusan tahun pun sudah lewat. Banyak sudah pahlawan dan orang bijak yang telah mengucurkan darah, kehilangan kepala, untuk mengusir penjajah Manzhou dan merebut kembali tanah air. Tetapi kini setelah melewati keempat dinasti Shunzhi, Kangxi, Yongzheng dan Qianlong, basisnya Manqing bertambah kokoh, dan kekejaman bangsa Tartar ini terhadap orang Han makin hari makin kejam, selain menindas juga pakai membujuk, selain menggunakan golok menebas juga menyediahkan  hadiah kopiah kerajaan, entah berapa banyak orang gagah ini yang masuk dalam kunkungan ini. Nafas kehidupan rakyat makin menurun, pikiran orang pun semakin membeku, rakyat jelata hanya bisa marah tetapi tidak bisa bicara, apakah situasi ini bukan yang dilukiskan dalam: <<selaksa kuda bungkam rintihkan getir lewat kebisuan>> Gimana tidak membikin orang menghela nafas?”

Xiao Zhiyuan membantah:”Tetapi ini belum tentu begitu. Denyut kehidupan sembilan wilayah diambang badai petir. Tidakkah kamu melihat waktu sebelum hujan deras dan kilat menyambar, bukankah semua pepohonan diam membisu, tiada debu beterbangan, tetapi begitu badai lewat, bukankah semua kotoran disapu bersih, nafas kehidupan bangkit kembali, ratusan bunga bermekaran?”

Ye Lingfeng menjawab:”Omongnya memang begitu. Tetapi entah kapan baru ada badai besar guntur menggelegar ini, bersihkan kepengapan ini, dan menggetarkan sembilan wilayah? Sudah itu kalau bicara tentang sumber daya manusia, kita berdua adalah orang rimba persilatan, maka mari kita bicara soal tokoh-tokoh persilatan ini saja.  Seratus tahun lalu ada tokoh Ling Muofeng Daxia[4] yang malang melintang di daerah Saiwai, menggetarkan hati kerajaan Qing; limapuluh tahun lalu ada Lu Siniang nuxia[5] yang malam-malam menyatroni istana memenggal kepala kaisar dengan pedang pusaka; dua puluh tahun lalu adalah Jin Shiyi Daxia[6], yang kalau muncul di suatu tempat, semua bajingan pada bersembunyi. Setelah pertempuran di Mengshan, membikin pengawal kerajaan Qing jadi takut berkelana ke dunia sungai telaga lagi. Kini, para tetua dan pahlawan ini, yang wafat sudah pada wafat, yang tua bertambah tua, ilmu mereka belum pada surup, tetapi kegagahan mereka makin meredup. Kalau ingat begitu, bagaimana tidak bikin hati gundah?…..”

………

Dari potongan terjemahan ceritera di atas ini paling tidak saya mendapatkan gambaran, mengapa judul ini disebut Fenglei Zhen Jiuzhou atau Badai Guntur Menggetarkan Sembilan Wilayah yang dengan bagusnya sudah diterjemahkan menjadi Geger Dunia Persilatan. Pertanyaan sekarang, di mana atau apa yang menggegerkan?

Supaya tidak merusak selera mereka yang belum baca, saya tidak akan jelaskan detail ceritera, tetapi berikan kerangka besarnya bahwa ceritera ini berawal dari kehadiran yang tidak sengaja dari dua tokoh di atas, ketika empat orang yingquan[7] atau garuda dan anjing pemburu, nama lain buat mata-mata kerajaan berusaha menangkap seorang ayah beranak di puncak Taishan. Kedua ayah beranak ini adalah Li Wenzheng dan Li Guangxia. Ayahnya mati gara-gara luka yang diderita setelah pertempuran berat melawan keempat yingquan itu, namun dia masih sempat menitipkan anaknya kepada dua pelaku di atas yang sempat membantu mereka mengalahkan musuh. Li Wenzheng setuju atas usul salah satu penolongnya agar Li Guangxia dibawa untuk berguru pada Jiang Haitian  (Kang Hai Thian), tokoh rimba persilatan ternama, anaknya Jiangnan alias Kanglam.

 

 

[1] Daoshi = Toosu.

[2] Xiaodi = siaute.

[3] Xiandi = Hiantee.

[4] Ling Muofeng Daxia = Leng Bo Heng Tayhiap?

[5] Lu Siniang nuxia = Lu Soe Nio Lihiap.

[6] Jin Shiyi Daxia = Kim Sie Ih Tayhiap.

[7] Seingat saya dulu suka baca istilah kuku garuda buat mata-mata dalam cersil. Tapi kuku garuda mengingatkan saya Yingzhua seperti dalam Engjiau, sedangkan Yingquan maksudnya garuda dan anjing pemburu.

 

Perlu saya jelaskan bahwa tokoh Li Wenzheng ini adalah seorang tokoh Tianli Jiao atau Hokkiannya mungkin Thian Li Kauw. Kematiannya kali ini dalam rangka melindungi wakil pimpinan Tianli Jiao bernama Lin Qing yang sedang dikejar Yingqian kerajaan, setelah ada pengkhianat melapor ke kerejaan yang lantas melabrak pusat Tianli Jiao di kota Baoting. Pemimpin Tianli Jiao bernama Zhang Tingju mati terbunuh waktu itu, sedangkan wakilnya Lin Qing menjadi buronan bersama putranya yang sebaya dengan putra Li Wenzheng, dan Li terpaksa berkorban dengan jalan memancing para Yingquan agar mengejar dia dan anaknya biar Lin dan anaknya bisa meloloskan diri. Dari situ ide ceritera ini berkembang, dan plotnya terus bercabang. Dalam lima buku Jiang Haitian terus berusaha mengejar Li Guangxia dan Lin Daoxuan, yang mengalami berbagai adegan menarik dalam perjalanan hidup mereka dan itu yang  membuat saya memaksakan diri menyelesaikan kelima jilid ini sampai kemarin tengah malam.

Ada beberapa hal yang menarik di sini:

Pertama soal Tianli Jiao. Ternyata ini adalah pecahan atau bagian dari Bailian Jiao yang dibahas pak ABS dalam email nomor 2621, tanggal 25 Agustus 2003 yang baru lalu. Tianli sendiri berarti hukum alam, dan tidak ada hubungan dengan Tenrikyo yang memakai nama dengan huruf kanji yang sama dan merupakan satu sekte agama Budha di Jepang. Selain Tianli Jiao mereka juga dikenal dengan nama Bagua Jiao atau ejaan  Hokkiannya mungkin Patkwa Kauw.

Dalam catatan sejarah, Tianli Jiao pernah memberontak pada zaman Jiaqing, dan ini pernah disinggung dalam tulisan pak ABS sbb:

Kemudian di jaman dinasti Tjeng (Qing), Pek Lian Kauw yang tetap menjadi secret society. Dan di bawah pimpinan Lauw Tjie Hiap, Lie Boen Seng, dan Lim Tjeng, organisasi ini berontak lagi di jaman kaisar Kee Keng (Jia Qing, memerintah 1796-1820), dan sempat masuk ke Pakkhia, walaupun akhirnya bisa ditindas.

Ternyata ketiga nama di atas, Lie Boen Seng itu tidak lain adalah tokoh Tianli Jiao yang mati di puncak Taishan, sedangkan Lim Tjeng adalah Lin Qing yang mau dilindungi ayah beranak Li Wenzheng ini.

Nah, apakah karya Liang Yusheng ini sejarah yang dicersilkan, atau cersil yang numpang sejarah, adalah hal kedua yang menarik hati saya.

Seperti pernah saya tulis, ketertarikan saya pada cersil saat saya masih kecil dulu antara lain karena banyak tokoh cersil terjemahan OKT dan Gan KL dulu ada dalam buku sejarah (waktu itu nama Jin Yong atau Liang Yusheng malah tidak begitu kenal, karena maklum sekolah rakyat saja belum tamat). Sampai sekarang saya masih ingat ketakjuban saya ketika menemukan nama Zhang Sanfeng alias Thio Sam Hong itu dalam satu kamus tebal di perpustakaan sekolah saya waktu itu. Zaman sekarang selain tulisan pak ABS di atas, bahan sejarah Tiongkok di Internet amat berlimpah. Dengan memasukkan search words Tianli Jiao untuk search dalam Chinese Traditional atau Fanti saja, hasilnya 857 entries dalam waktu 0.2 sekon. Dari situ saya temukan, antara lain dari bahan sejarah perang Candu, kalau pemberontakan Tianli Jiao berlangsung pada tanggal 15 September 1813, atau tepatnya, 190 tahun yang lalu.

Dalam buku ini, pemberontakan Lin tujuannya menyerang ke istana, sedangkan bawahan Lin yang terdiri dari para jago rimba persilatan menyatroni penjara untuk bebaskan suaminya Qianshou Guangyin Qi Shengyin (Kuan Im tangan seribu Tjik Seng Im)  yang bernama Wei Zhijiong dan anaknya Lin yang bernama Lin Daoxuan yang sempat menjadi tawanan mata-mata kerajaan dan dibawa ke Beijing. Kedua tawanan ini bisa dibebaskan setelah pertempuran yang memakan tenaga, tetapi Lin sendiri mengalami perlawanan besar waktu menyerang ke istana walaupun ada anak buah Tianli Jiao yang menjadi kasim itu membantu dari dalam. Dalam kisah ini Lin tertembak. Hal ini dilukiskan di bab 41, dan ketika putranya Lin, Daoyuan yang baru dibebaskan masih menangis bergulung-gulung memeluki tubuh ayahnya, Jiang Haitian lalu memekik tertawa tiga kali terus berkata: “Bagus, Lin Qiaozhu[1], kamu mati dengan gagah. Kematianmu ini mengagetkan langit dan bumi, menggegerkan sembilan wilayah. Kematianmu ini membuat musuh menggigil dalam ketakutan, tetapi membangkitkan semangat rakyat. Kau tidak kalah, walaupun tidak berhasil menguasai istasana kaisar, tetapi kau telah menggetarkan fondasi dari kerajaan Qing. Kau hidup sebagai pahlawan, matipun sebagai pahlawan. Tidak, sesungguhnya kau tidak mati. Walaupun kau mati tetapi hidup kembali…..”

Walaupun masih ada 15 bab lagi sebelum buku ini berakhir, tetapi dari catatan di bagian awal dan catatan di atas, terlihat dari mana asal usul judul Fenglei Zheng Jiuzhou ini. Fenglei  atau badai dan guntur menggelegar dibahas di awal tulisan ini sebagai kiasan akan perubahan drastis dalam pemberontakan untuk mengubah suasana apatis akibat penjajahan. Sedangkan Zheng Jiuzhou, menggetarkan sembilan wilayah alias seluruh negeri, diambil dari pekikan Jiang Haitian saat memberikan eulogi dihadapan jenazah Lin di atas, dalam kata-kata, ‘kematianmu ini mengagetkan langit dan bumi, menggegerkan sembilan wilayah.”

Sekarang tinggal pertanyaan, sejauh mana kebenaran sejarah yang dipakai oleh Liang Yusheng dalam menggarap ceritera ini?

 

 

[1] Lin Qiaozhu = Lim Kauwtjoe.

 

Sekarang tinggal pertanyaan, sejauh mana kebenaran sejarah yang dipakai oleh Liang Yusheng dalam menggarap ceritera ini?

Dalam salah satu situs tentang sejarah perang Candu, dikisahkan bahwa Lin menyerang ke Beijing untuk membebaskan Li Wenzheng yang ketangkap sebelumnya. Lin bukannya ketembak dan mati di tangan para pemberontak, tetapi ketangkap oleh pasukan kerajaan, kemudian dihukum mati. Sedianya mereka berencana menyerang dari dua arah. Tetapi pasukan dari selatan gagal datang, dan seperti juga dalam ceritera ini, pasukan Lin harus bergerak awal satu hari. Pasukan selatan gagal karena waktu mereka membikin senjata, beritanya bocor, lalu pimpinannya bernama Li Wenzheng yang dalam ceritera Liang ini sudah dibunuh di awal ceritera, malah ketangkap, dipenjarakan, dan pasukan Lin menyerang ke istana sekalian bisa membebaskan Li dari penjara. Tanggal 23 September, kaisar Jia Qing sendiri ikut mengadili dan menjatuhkan hukum mati kepada Lin bersama para pembantunya.

Yang terakhir adalah urusan asal usul syair di atas. Syair itu dapat ditemukan dalam “Jihai Zashi” atau Kumpulan Syair Jihai dari Gong Dingan. Jihai di situ adalah nama tahun dalam kalendar Huang dengan siklus 60 tahun. Tepatnya, tahun Jihai di sini jatuh pada tahun Kaisar Daoguang ke-19, atau 1839 Masehi. Jadi kumpulan syair itu ditulis dua puluh enam tahun setelah pemberontakan Lin Qing. Gong berusia 38 tahun ketika dia lulus ujian kerajaan dan mendapatkan gelar Jinshi pada tahun Daoguang ke-9 atau 1829 Masehi, setelah mencoba untuk keenam kalinya. Karena lulus dengan nomor urut ke-95, atau nomor sembilan belas dalam kelompok kelas tiga, maka dia tidak bisa masuk ke Hanlin Yuan. Jadi  Kumpulan Syair Jihai ditulis setelah Gong lulus dan bekerja di Beijing selama 10 tahun lalu pulang kampung ke Zhejian gara-gara frustrasi dan mendapat urusan di ibukota. Dari urutan ini, jelaslah bahwa hanya imajinasi mpu seperti Liang Yusheng atau Jin Yong saja yang bisa membaurkan fakta sejarah ini dan menjadikan novel yang menggugah, di mana saya sendiri ikut menikmati.

Seperti saya katakan di awal tulisan ini, buku ini adalah buku kedua yang saya baca. Saya tidak bisa bandingkan dengan buku lain, karena pada umumnya buku-buku lain itu saya baca sekitar 30-40 tahun yang lalu. Ada beberapa nama, misalnya tokoh-tokoh Tianshan atau Mengshan yang mengingatkan saya akan nama-nama dari buku yang saya pernah baca dahulu. Termasuk dalam kasus ini adalah tokoh Jiangnan atau Kanglam, ayahnya Jiang Haitian. Seingat saya ini nama kacung entah di dalam Bidadari dari Sungai Es atau Pedang Inti Es. Cuma dari segi ilmu silat dan bagaimana tokoh-tokoh utama ini mendapatkan ilmunya, tidak sehebat seperti dalam trilogi Rajawali Jin Yong. Mengenai cara pemberian judul ceritera versi cetak ini juga berbeda dengan versi kuno. Semua judul dalam bentuk syair sudah dipenggal menjadi judul dalam bentuk pepatah yang terdiri dari 4 huruf saja. Begitu juga penutup bab yang selalu menyimpulkan kejadian di situ dalam bentuk syair juga tidak ada dalam versi cetak.  Tapi mungkin hal-hal ini tidak penting karena setahu saya syair tidak begitu dipentingkan versi dalam terjemahan.

***

Huntsville, Alabama.

190 tahun setelah pemberontakan Lin Qing

 




2 thoughts on “Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s